Beranda Budaya Opini Tentang Penyair Sang Binatang Jalang

Opini Tentang Penyair Sang Binatang Jalang

15
0
BERBAGI

Siapa yang tak kenal dengan penyair yang satu ini, dialah sosok sang binatang jalang, Chairil Anwar. Setiap puisinya, dia mencitrakan diri sebagai sosok yang tegar dalam pendirian garang dalam berkomitmen, seakan tanpa kompromi.

Tapi Chairil manusia juga, dia memiliki sudut jiwa sentimentil juga. Sekalipun dalam beberapa puisinya, kesentimentilan nya dia bungkus dengan rumit yang sukar ditebak.

Tapi untuk puisi, Senja di Pelabuhan Kecil, Chairil mulai berani mengungkapkan rasa hatinya untuk wanita sang pujaannya.

“Senja di Pelabuhan Kecil”

Buat Sri Ajati

         Ini kali tidak ada yang mencari cinta

         di antara gudang, rumah tua, pada cerita

         tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

         menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

 

         Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

         menyinggung muram, desir hari lari berenang

         menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

         dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

 

         Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

         menyisir semenanjung, masih pengap harap

         sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

          dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Chairil biasanya orang yang tegar dan selalu optimis dalam segala hal tetapi dalam puisi ini dia merasa pesimis karena cintanya sudah kandas. Sehingga puisi ini seakan-akan menjadi melankolis karena dalam syairnya berisi tentang ratapan dan kesedihan Chairil dalam memikirkan nasib yang benar-benar sudah tak bisa lagi dirubah. Tetapi dalam puisi ini, Chairil bisa menguasai emosinya, sehingga dalam puisi ini, Chairil tidak terjebak dalam lirik yang lebay dan mampu menguasai emosi sentimentilnya. Sehingga pembaca tidak larut dalam emosi sentimentilan sang binatang jalang.

Tentunya beda dengan puisi-puisi Chairil yang menunjukkan ketegaran dan kekuatan Chairil Anwar tersebut, seperti yang tergambar dalam puisinya yang berjudul “Aku”. Dalam puisi “Aku”, sang penyair menulis puisi ini karena penyair ingin menunjukkan keindividualan dan ketegarannya sebagai pribadi yang tegas namun sejatinya, dia selalu merasa kesepian.

Rangga, Sukalarang, 4 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here