Beranda Opini Pembaca Surat Terbuka Untuk Susi Pujiastuti

Surat Terbuka Untuk Susi Pujiastuti

51
2
BERBAGI

dari : Ahmad Yazdi R Alaydrus, SH

Saya sepakat sama mantan Menteri Susi melarang pengambilan bibit lobster. Seharusnya dia buat juga larangan pengambilan ikan tongkol atau tuna secara berlebihan, karena ikan tongkol takut punah, jika diambil ribuan ton begitu. Kan masyarakat umumnya mampu mengakses ikan tongkol ketimbang lobster harganya mahal.

Nelayan yang tangkap saja jarang makan lobster.

# Bu susi kalau udah tidak jadi Menteri mending diam saja, Anda itu banyak dosanya sama nelayan dan pengusaha ikan menengah bawah yang ditangkap-tangkapi gegara PERMEN larangan menangkap bibit lobster Anda. Jangan bicara kesejahteraan nelayan, aturan yang Anda buat itu tajam ke bawah paham!!

Saya ingin sekali berbicara sama Anda tentang keadilan dan kemanusiaan. Anda tidak akan bisa lagi mengganti air mata keluarga nelayan itu yang Anda paksa jadi bajak laut di laut NKRI, di laut yang mana mereka mencari nafkah, dan membesarkan anak-anak mereka sebagai aset bangsa. Mereka nelayan itu pekerjaanya sudah sulit, melaut bertaruh nyawa terkadang saat melaut rugi karena hasil tangkapnya tidak sesuai dengan oprasional yang dikeluarkan, pun demikian mereka masih berinvestasi untuk bangsa ini dengan menyekolahkan anak-anaknya, dan apakah Anda tahu!! Gegara PERMEN Anda, Anda buat mereka pekerja yang halal jadi buronan laut, jadi incaran SATPOLAIR.

Dan pengusaha lokal yang baru mapan sedikit, yang ia beli bibit lobster dari nelayan harus jadi bangkrut lagi gegara kena kasus hukum yang mahalnya bikin bangkrut,

Ibu tuh sudah merusak senyum nelayan-nelayan kecil konvensional.

Bu coba sadari dosa Anda.

Penegak hukum kita ini belum semuanya menjalankan keadilan,  polisi, jaksa, hakim semua masih sulit berjalan lurus.

PERMEN ibu ini dijadikan oleh oknum penegak hukum untuk memeras pengusaha lokal yang ketangkap. Dan terjadilah pasar gelap yang luar biasa dahsyat lebih-lebih dari narkoba.

Bahkan penjualan bibit ini harus kordinasi sampai bintang-bintang Bu.

Ibu buatkan jalan bagi para oknum-oknum penegak hukum untuk menekan dan memeras.

Mereka pengusaha nelayan lokal habis ratusan juta jika sudah kena kasus kejahatan PERMEN pelarangan tangkap bibit Ibu.

Ya allah di tempat kami wilayah selatan, itu menjadi cerita yang kami dengar jika ada yang ketangkap masalah benur.

Dan saya beberapakali mendampingi sebagai advokat nelayan dan pengusaha ikan yang ketangkap dan dijadikan terdakwa atas kejahatan PERMEN Ibu yang sebetulnya aneh. Ibu kan yang bilang di video bibit lobster yang sedang ramai itu, jika bibit dan lobster ini Tuhan yang punya dan Tuhan yang besarkan, loh kok ini ibu buatkan aturan lewat PERMEN itu, untuk tangkap dan penjarakan nelayan dan pengusaha ikan yang tangkap dan jual belikan barang milik tuhan yakni bibit lobster. Apa ibu sudah tanya sama Tuhan? Atau ibu dapat perintah langsung dari Tuhan untuk tangkap-tangkapi nelayan yang tangkap itu bibit lobster.

Coba saja selama 5 tahun ibu jadi menteri ibu buatkan prototipe tempat pembesaran bibit benur terintegrasi seperti di negara lain dan dibiayai oleh kementrian Ibu.

Demi Allah saya akan cium kaki ibu karena ibu sudah berikan oleh-oleh yang baik untuk nelayan kita dan bangsa ini.

Baru ibu terapkan aturan bibit tidak boleh beredar keluar. Karena kita sudah punya tempat pembesarannya sendiri. Jika itu sudah Ibu lakukan saya korbankan darah saya Bu untuk terdepan bantu tegakkan aturan pelaranganya Bu, karena alasan nasionalisme bisa diterapkan pada jalan dan tempat yang tepat.

Tapi nampaknya ibu lebih senang selfie saat menenggelamkan kapal. Dan di-publish media secara berlebih.

Saya mohon sama ibu sudahi polemik dan kegaduhan yang Ibu buat, kan Ibu sudah dapat citra yang baik karena banyak tenggelamkan kapal.

Jangan sampai citra ibu rusak gegara air mata keluarga nelayan dan pengusaha kecil yang diputus berasalah dan jadi penjahat dil aut gegara PERMEN ibu.

Terima kasih dan salam hormat!!

Sayyid Ahmad Yazdi R Alaydrus, SH

 

Redaksi menerima kiriman tulisan berupa artikel, surat pembaca, cerpen, dan puisi untuk diterbitkan di website Sukabumi Pos. Tulisan diketik di word (.doc / .docx) dan dikirimkan ke email redaksi kami: redaksi.sukabumipos@gmail.com atau langsung ke redaktur kami: ranggagunawan655@gmail.com. Redaktur berhak menyunting tulisan sesuai dengan konten yang ada di website Sukabumi Pos. Kami tidak menerima tulisan bermotif SARA, pem-bully-an, atau pelecehan.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here